Aku tersandar di dinding sunyi
ketika malam kian gering ini adalah rimba yang
merahsiakan dengkur sengsara
dari perenggan sejarah
lantas sesudah tersayat aku dijodohkan
pada kefasadan
bagai meneguk salju
ku jamah rintik-rintik maghfirah
dari kebun langit-Mu yang ranum itu, Rabb
dalam sebungkus doa renyuk
sehingga nama-nama terindah mengguyur
jadi zikir para jelata dan marga jagat- hanya
nama itu- nama yang merajai
sunyi dan zulmat
serta melata semesta
mengikhlaskan iktikaf dalam yakin janji-Mu
satu-satunya.
Rabb, sedang ini cuma abdi
mendayakan sujud di daerah peribadi
merebahkan dahi yang kecelaruan nafsu
pada usang sejadah
yang mendiamkan sebuah rahsia abadi
untuk kutuang kedinginan nasuha
sesudah aku adalah lelaki
dari ghazwah yang tewas
parah dan berdarah.
-fadh razy
No comments:
Post a Comment